Fokus telah Berubah
Artikel ini terinspirasi dari tema gereja kami pada bulan September kemarin, dan juga dari kotbah-kotbah para pastor kami sepanjang bulan kemarin. Semoga boleh menjadi berkat.
Bro & Sis, bulan September ini kita sedang belajar tentang FOCUS. Minggu pertama, Ps. Jeffrey Rachmat menyampaikan kotbah dengan topik Salah Fokus, dan lewat apa yang telah ia kotbahkan, kita telah belajar bagaimana kita boleh memiliki fokus yang benar di dalam berbagai aspek hidup kita. Lalu, minggu kedua, kembali Ps. Jeffrey Rachmat menyampaikan kotbah dengan topik Multiple Choice, dan lewat apa yang telah ia kotbahkan, kita telah belajar bagaimana kita boleh tetap memiliki fokus yang benar, saat kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan yang menggoda kita. Dan, minggu kemarin (minggu ketiga), Ps. Jose Carol menyampaikan kotbah dengan topik Why Focus, dan lewat apa yang telah ia kotbahkan, kita boleh belajar mengapa kita perlu memiliki fokus di dalam menempuh perjalanan hidup kita. Ini benar-benar sebuah seri kotbah yang sangat penting bagi hidup kekristenan kita, agar kita boleh menempuh dan meraih kehidupan yang maksimal di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Nah, berpijak dari tema kita bulan ini dan melalui apa yang telah disampaikan oleh para pastor kita, aku tergerak untuk berbagi sedikit tentang fokus ini. Aku memberikan judul untuk sharing-ku ini, Fokus telah Berubah. Kerinduan untuk membagikan sharing ini mencuat, karena aku sendiri pernah mengalami situasi dari fokus yang telah berubah ini, dan melihat bagaimana hal ini telah melahirkan banyak kerugian di dalam perjalanan hidupku. Aku tidak ingin kalian mengalami hal yang serupa. Kalian mungkin akan bertanya, apakah yang dimaksud dengan Fokus telah Berubah ini?
MELAYANI UNTUK TUHAN?
Ketika aku menjadi percaya dan menerima Kristus Yesus, sebagai Tuhan dan Juruselamat atas hidupku, hatiku begitu rindu untuk menyenangkan hati-Nya, sebagai respon atas kasih-Nya yang begitu besar akan aku, karena Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus aku. Karena itu, saat aku beroleh kesempatan untuk melayani pekerjaan Tuhan, aku langsung merespon panggilan-Nya dengan antusias. Aku begitu giat dalam pekerjaan Tuhan, dan motivasiku hanya satu –yaitu karena aku mengasihi Dia dan rindu untuk menyenangkan hati-Nya dengan segenap hati, jiwa dan akal budiku.
Bro & Sis, waktu terus berjalan dan kerajinanku tidak pernah menjadi kendor di dalam melayani pekerjaan Tuhan, tetapi tanpa aku sadari ada sesuatu yang mulai berubah di dalam hidupku. Awalnya, seperti yang telah aku ceritakan di atas, aku begitu antusias untuk melayani pekerjaan Tuhan, karena aku mengasihi Dia dan rindu untuk menyenangkan hati-Nya, tetapi kesibukanku di dalam pelayanan dengan perlahan tetapi pasti, telah menggerus waktu untuk aku memiliki persekutuan pribadi dengan Tuhan. Fokusku telah berubah. Memang aku masih tetap giat melayani pekerjaan Tuhan, tetapi tanpa aku sadari fokus pelayananku telah berubah. Kalau awalnya fokusku adalah karena aku mengasihi Tuhan dan rindu untuk melayani Dia, tetapi kesibukanku di dalam pelayanan malah menjauhkan aku dari persekutuan pribadi dengan Tuhan. Aku terlebih terfokus pada sejumlah aktivitas pekerjaan Tuhan, dari pada kepada pribadi Tuhan yang aku layani dan yang menjadi alasanku melakukan semua itu.
BEKERJA UNTUK KELUARGA?
Aku percaya, bahwa kita semua memiliki kerinduan untuk boleh menjadi saluran berkat yang maksimal bagi keluarga kita, dan hal itu juga yang telah menjadi motivasiku untuk bekerja dengan giat. Ketika aku sedang bekerja dan menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan di dalam pekerjaanku, maka salah satu motivasi yang membuat aku boleh tetap bekerja dengan penuh antusias adalah keluarga.
Bro & Sis, waktu terus berjalan dan semangatku tidak pernah menjadi kendor di dalam bekerja, tetapi tanpa aku sadari ada sesuatu yang mulai berubah di dalam hidupku. Awalnya, seperti yang telah aku ceritakan di atas, salah satu yang memotivasi untuk bekerja dengan penuh antusias adalah keluarga, tetapi kesibukanku di dalam bekerja dengan perlahan tetapi pasti, telah menggerus waktu untuk aku memiliki waktu dengan keluarga. Fokusku telah berubah. Memang aku masih tetap bekerja dengan antusias, tetapi tanpa aku sadari fokus pekerjaanku telah berubah. Kalau awalnya fokusku adalah karena aku ingin menjadi saluran berkat untuk keluargaku, tetapi kesibukanku di dalam bekerja malah membuat aku kurang memiliki waktu untuk mereka. Aku terlebih terfokus pada sejumlah aktivitas pekerjaanku, hingga terlupakan untuk melayani keluargaku dan yang menjadi alasanku melakukan semua itu.
BAGAIMANA DENGAN FOKUS KITA?
Bro & Sis, tanpa kita sadari, kita begitu mudah teralihkan dari apa yang menjadi fokus kita, saat kita melakukan melakukan satu pekerjaan tertentu di dalam berbagai aspek hidup kita. Aku melihat, bahwa setidaknya ada empat perkara yang seringkali membiaskan apa yang menjadi alasan utama (fokus) kita, yaitu saat pertama kali kita hendak melakukan satu pekerjaan atau aktivitas tertentu.
SATU, yaitu kesibukan. Kita sadari atau tidak, seringkali kesibukan mulai mendatangi apa yang kita sedang kerjakan, maka ia akan segera memenuhi seluruh sudut ruang hati dan area pikiran kita, hingga kita terlupakan apa yang menjadi alasan kita melakukan ini dan itu. Hal ini akan terjadi dengan perlahan, dan dimulai saat kita mulai berkata, “Wah, sori, kali ini aku tidak bisa, karena aku lagi sibuk ...” bukan hanya kepada sesama kita –termasuk keluarga kita, tetapi juga kepada Tuhan kita. Dimulai dari satu kali, sesekali, seringkali, dan akhirnya ... waktu kita pun habis tersita untuk kesibukan kita.
DUA, yaitu adrenalin. Kita akui atau tidak, seringkali problema atau kesulitan –yang pada awalnya terasa begitu merintangi apa yang sedang kita kerjakan, dengan berjalan waktunya justru memancing adrenalin kita untuk boleh menghadapi dan membereskan semua itu. Atau, jika kita diperhadapkan dengan berbagai peluang yang menantang kita, maka adrenalin kita pun langsung terpacu untuk meresponnya. Nah, yang menjadi masalah, seringkali kenikmatan seperti di atas membuat kita melupakan apa yang menjadi tujuan dan alasan kita melakukan satu pekerjaan tertentu di dalam hidup kita.
TIGA, yaitu kebablasan. Kita perlu selalu mewaspadai dan senantiasa mengingat apa yang menjadi alasan utama (fokus) kita, saat kita melakukan satu pekerjaan tertentu di dalam setiap aspek hidup kita, agar kita tidak menjadi kebablasan dan menyimpang dari fokus kita semula. Contoh, soal pekerjaan, fakta menunjukkan ada banyak pengusaha, kaum profesi dan karyawan yang pada awalnya memiliki purpose dan value yang benar dan baik, saat mereka memulai pekerjaan mereka, tetapi seiring dengan perjalanan waktu semua itu mulai berubah, setelah mereka mulai menuai dan merasakan kenikmatan dari apa yang telah mereka kerjakan selama ini. Mereka mulai dihinggapi oleh rasa kurang dan ingin lebih, lalu dengan perlahan tetapi pasti semua rasa itu terus bertumbuh dan melahirkan benih-benih ketamakan dan keserakahan. Mereka menjadi workaholic! Mereka melupakan aspek hidup mereka yang lain, bahkan berbagai value yang mereka pegang teguh selama ini. Fokus mereka telah berubah.
EMPAT, yaitu kejenuhan. Ketika kita tidak kunjung melihat hasil yang kita harapkan atau menghadapi problema dan kesulitan yang tidak kunjung selesai, saat kita sedang berlari-lari kepada apa yang menjadi fokus kita, kita berpotensi untuk mengalami kejenuhan (kelelahan batiniah) dan menyimpang dari fokus kita semula. Ini tidak seharusnya terjadi. Kita mungkin masih melakukan apa yang kita harus lakukan, tetapi tak lebih hanya sebagai kewajiban atau tuntutan belaka. Fokus kita telah berubah. Hei, tak hanya itu saja, saat kita berada di dalam kondisi seperti ini, kita mudah berprasangka buruk terhadap berbagai hal dan mudah terpancing untuk membuat keputusan-keputusan yang emosional –hingga mengakibatkan banyak kerugian di dalam berbagai aspek hidup kita, karena fokus kita telah berubah.
Nah, lewat keempat point di atas, kita bisa melihat dengan jelas mengapa kita perlu selalu mewaspadai dan senantiasa mengingat apa yang menjadi alasan utama (fokus) kita, saat kita melakukan segala sesuatu di dalam berbagai aspek hidup kita. Ketahuilah, bahwa hal ini tidak hanya mencakup tentang pekerjaan atau pelayanan saja, tetapi juga mencakup aspek-aspek hidup yang lainnya, termasuk juga hobi dan kesukaan tertentu. Aku juga seringkali melihat –bahkan pernah mengalami sendiri, bagaimana satu hobi atau kesukaan yang semula hanya untuk pengisi waktu, tetapi bisa berubah fokus dan membuat beberapa orang tidak bisa memiliki waktu untuk keluarga mereka atau menjadi tidak maksimal di dalam bekerja. Kita perlu mewaspadai semua ini dengan serius, agar kita tidak terhilang di dalamnya. # (bersambung)