10 Mei 2019
Hari itu, sekitar pukul 06.00 sore, aku sedang di sebuah coffee shop dan mengerjakan gambar di laptopku, saat seorang pemuda yang duduk di dekat mejaku bertanya, “Maaf Pak, apakah itu program Sketchup?” Aku menoleh dan berkata, “Iya benar,” dan ternyata ia juga seorang arsitek seperti aku, dan segera kami terlibat pembicaraan tentang dunia arsitek dan kontraktor. Ketika kami sedang saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, ia berkata, “Saya tadi bertanya kepada Bapak, karena saya merasa kagum bahwa ada orang seusia Bapak masih mau belajar Sketchup, padahal kebanyakan orang seusia Bapak sudah malas untuk mengembangkan kemampuannya, apalagi sampai harus belajar Sketchup. Luar biasa, Pak!” Aku hanya tersenyum mendengar perkataan orang muda ini, karena aku sadar semuanya ini telah terjadi, karena kasih karunia Allah dan karya Roh Kudus yang bekerja di dalam hidupku, hingga aku tidak pernah lelah untuk belajar dan terus mengembangkan potensi dari TUHAN yang ada di dalam diriku.
Hari itu, sekitar pukul 06.00 sore, aku sedang di sebuah coffee shop dan mengerjakan gambar di laptopku, saat seorang pemuda yang duduk di dekat mejaku bertanya, “Maaf Pak, apakah itu program Sketchup?” Aku menoleh dan berkata, “Iya benar,” dan ternyata ia juga seorang arsitek seperti aku, dan segera kami terlibat pembicaraan tentang dunia arsitek dan kontraktor. Ketika kami sedang saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, ia berkata, “Saya tadi bertanya kepada Bapak, karena saya merasa kagum bahwa ada orang seusia Bapak masih mau belajar Sketchup, padahal kebanyakan orang seusia Bapak sudah malas untuk mengembangkan kemampuannya, apalagi sampai harus belajar Sketchup. Luar biasa, Pak!” Aku hanya tersenyum mendengar perkataan orang muda ini, karena aku sadar semuanya ini telah terjadi, karena kasih karunia Allah dan karya Roh Kudus yang bekerja di dalam hidupku, hingga aku tidak pernah lelah untuk belajar dan terus mengembangkan potensi dari TUHAN yang ada di dalam diriku.
Ketika akhirnya orang muda itu pamit untuk pulang lebih dulu dan aku kembali meneruskan pekerjaanku di laptop, tiba-tiba aku teringat akan salah satu tokoh di dalam Alkitab yang bernama Ezra. Ia adalah seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa yang diberikan TUHAN, Allah Israel, yang selama ini juga telah menginspirasi aku. Inilah yang dituliskan Alkitab mengenai Ezra, “Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.” [Ezra 7:10]. Ezra ini sungguh luar biasa! Ia adalah seorang ahli kitab, bahkan dikatakan mahir dalam Taurat Musa, tetapi Ezra masih tetap bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN lagi. Kita sungguh perlu meneladani cara hidup Ezra ini. Kita tidak semestinya berpuas diri dengan pencapaian potensi kita selama ini, melainkan kita tetap harus memiliki tekad seperti Ezra untuk mau terus mengembangkan seluruh potensi atau talenta dari TUHAN yang ada di dalam diri kita. agar kita boleh meresponi panggilan Allah atas hidup kita dengan lebih maksimal lagi di dalam berbagai aspek hidup kita. Apapun bentuk profesi dan panggilan kita.
Aku ingin menutup sharingku dengan firman Tuhan yang tertulis di dalam Amsal 4:18, “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.” Kita seharusnya menjadi seperti ini, bukannya seiring bertambahnya usia makin meredup. Karena itu, di dalam Kristus, oleh kasih karunia Allah dan karya Roh Kudus, mari kita memiliki tekad untuk terus mengembangkan seluruh potensi atau talenta dari TUHAN yang ada di dalam diri kita, agar jalan hidup kita boleh makin terang dan menjadi saluran berkat dari Allah yang makin maksimal lagi bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. BRIGHTER! Tuhan memberkati.