Pages

Friday, March 3, 2017

Tidak Berkata Benar tentang TUHAN

Ayub 42:7 : Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Téman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub."

Alkitab mencatat, bahwa kesalahan ketiga sahabat Ayub -hingga TUHAN hendak melakukan aniaya terhadap mereka (Ayb 42:8), karena mereka telah berkata tidak benar tentang Dia di hadapan Ayub.

Kalimat 'tidak berkata benar tentang Aku' menunjukkan bahwa ketiga sahabat Ayub telah mengucapkan statement yang membuat orang yang mendengarkan mereka, memiliki persepsi yang keliru tentang Allah dan maksud-Nya (dan di dalam konyeks ini adalah apa yang mereka telah katakan tentang TUHAN kepada Ayub, sahabat mereka).

Kawan, berbicara tentang konteks 'tidak berkata benar tentang Aku' ini, ada dua kata-kata yang akan kita cermati bersama, yaitu 1) kata-kata yang menyesatkan, dan 2) kata-kata yang terlalu cepat menghakimi.

Kita akan melihat kata-kata yang pertama, yaitu kata-kata yang MENYESATKAN. Ini berbicara tentang pernyataan (kata-kata) yang tidak sesuai dengan prinsip firman Tuhan. Hal ini mengingatkan kita, untuk belajar firman Tuhan dengan baik, agar kita boleh mengenal kebenaran (Yoh 8:31-32), serta senantiasa meminta tuntunan Roh Kudus untuk membawa kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13), agar kita boleh dihindarkan dari 'tidak berkata benar tentang Aku'.

Alkitab menulis : Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau. (1 Tim 4:16).

Kini, kita akan melihat kata-kata yang kedua, yaitu kata-kata yang TERLALU CEPAT MENGHAKIMI. Ini berbicara secara khusus tentang pernyataan (kata-kata) yang terlalu cepat menyimpulkan bahwa keadaan buruk yang dialami orang sebagai akibat dari adanya dosa yang telah terjadi, dan TUHAN tidak suka (marah) dan telah menghukum mereka. Inilah yang telah dilakukan oleh ketiga sahabat Ayub. Mereka terlalu cepat menyimpulkan keadaan Ayub yang begitu buruk dengan kemungkinan adanya dosa yang belum dibereskan, hingga hal itu mendatangkan hukuman Tuhan atas Ayub, agar ia jera dan bertobat.

Akibatnya, bukannya Ayub boleh dikuatkan dan tetap percaya kepada TUHAN, ia malah memiliki persepsi yang keliru tentang Allah dan maksud-Nya berkaitan dengan situasi dan kondisi yang dialaminya. Lalu, Ayub pun mulai berbantah dengan ketiga sahabatnya, bahkan terpancing untuk mengecam, malah sampai mencela TUHAN (Ayb 39:34-35).

Alkitab menulis : Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung! (Rom 14:13).

Kawan, kita masih bisa melakukan kesalahan saat mengajar orang lain, dan semua bisa segera diselesaikan begitu kita mengakui kesalahan kita dan mengoreksi apa yang telah kita ajarkan tersebut. Namun, begitu kita terlalu cepat memghakimi orang lain, meski kita telah melakukan pemberesan, tetapi luka akibat penghakiman tersebut tak mudah untuk disembuhkan. Butuh waktu lama.

Tak hanya itu, saat kita terlalu cepat untuk menghakimi situasi dan kondisi orang lain, sesungguhnya kita sedang menggeser posisi TUHAN atas hidup kita dan orang itu, karena hanya Dia yang BERHAK untuk menghakimi.

Kiranya, coretan singkat ini, boleh menjadi reminder bagi kita semua, untuk berhati-hati dengan apa yang kita ajarkan dan jangan terlalu cepat untuk menghakimi, bahkan jika perlu ... jangan kita menghakimi lagi! Tuhan memberkati.