Kita sering mendengar dan berkata, "Suami itu kepala dan isteri itu
tubuh. Itu artinya, tugas isteri adalah mendukung suaminya, supaya ia
boleh meraih destininya, karena fungsi tubuh adalah mendukung kepala."
Itulah yang selalu didengungkan di mana-mana.
Pertanyaannya, jika suami itu kepala dan isteri itu tubuh, mengapa
hanya didengungkan bahwa tugas isteri adalah mendukung suaminya, untuk
mencapai destininya di dalam Kristus Yesus, tetapi HAMPIR TIDAK PERNAH
didengungkan, bahwa tugas suami adalah menolong isterinya, supaya ia
boleh mencapai destininya di dalam Kristus Yesus. Coba renungkan
sejenak, bukankah fungsi kepala adalah menuntun tubuh ke mana ia harus
bergerak? Ini adalah fakta yang seringkali atau bahkan terlupakan di
dalam hidup nikah dan hidup berkeluarga. Kita hanya sibuk berbicara
bagaimana isteri mendukung suami di dalam berbagai perkara, tetapi tak
pernah berbicara bagaimana suami harus menopang isteri di dalam berbagai
perkara. Timpang!
Kalau kita bercermin pada apa yang dilakukan
Kristus sebagai Kepala terhadap jemaat, kita akan melihat bagaimana
Kristus melakukan segala perkara, agar kita yang adalah tubuh-Nya boleh
menikmati kasih Bapa dengan limpah dan berbuah lebat bagi Bapa di surga.
Kita boleh meraih destini kita dengan maksimal. Kristus tidak hanya
meminta kita untuk melakukan sesuatu bagi Dia, tetapi bahkan Ia jauh
lebih banyak melakukan berbagai perkara bagi kita, karena kita adalah
tubuh-Nya dan Ia adalah Kepala kita. Ini yang seharusnya terjadi dan
berlaku.
Karena itu, para suami isteri, biar kita boleh menjadi
satu kepala + tubuh yang normal, yaitu kepala menuntun tubuh dan tubuh
menopang kepala. Kepala dulu berfungsi, lalu baru tubuh berfungsi, itu
yang normal. Suami menuntun isteri dan isteri menopang suami, agar
keduanya boleh saling bergandeng tangan, untuk mencapai destini mereka
berdua dan destini mereka masing-masing di Kristus Yesus, Tuhan. Ini
baru kehidupan suami isteri yang normal dan seharusnya.