Pages

Wednesday, January 24, 2018

Kepala dan Tubuh

Kita sering mendengar dan berkata, "Suami itu kepala dan isteri itu tubuh. Itu artinya, tugas isteri adalah mendukung suaminya, supaya ia boleh meraih destininya, karena fungsi tubuh adalah mendukung kepala." Itulah yang selalu didengungkan di mana-mana.

Pertanyaannya, jika suami itu kepala dan isteri itu tubuh, mengapa hanya didengungkan bahwa tugas isteri adalah mendukung suaminya, untuk mencapai destininya di dalam Kristus Yesus, tetapi HAMPIR TIDAK PERNAH didengungkan, bahwa tugas suami adalah menolong isterinya, supaya ia boleh mencapai destininya di dalam Kristus Yesus. Coba renungkan sejenak, bukankah fungsi kepala adalah menuntun tubuh ke mana ia harus bergerak? Ini adalah fakta yang seringkali atau bahkan terlupakan di dalam hidup nikah dan hidup berkeluarga. Kita hanya sibuk berbicara bagaimana isteri mendukung suami di dalam berbagai perkara, tetapi tak pernah berbicara bagaimana suami harus menopang isteri di dalam berbagai perkara. Timpang!

Kalau kita bercermin pada apa yang dilakukan Kristus sebagai Kepala terhadap jemaat, kita akan melihat bagaimana Kristus melakukan segala perkara, agar kita yang adalah tubuh-Nya boleh menikmati kasih Bapa dengan limpah dan berbuah lebat bagi Bapa di surga. Kita boleh meraih destini kita dengan maksimal. Kristus tidak hanya meminta kita untuk melakukan sesuatu bagi Dia, tetapi bahkan Ia jauh lebih banyak melakukan berbagai perkara bagi kita, karena kita adalah tubuh-Nya dan Ia adalah Kepala kita. Ini yang seharusnya terjadi dan berlaku.

Karena itu, para suami isteri, biar kita boleh menjadi satu kepala + tubuh yang normal, yaitu kepala menuntun tubuh dan tubuh menopang kepala. Kepala dulu berfungsi, lalu baru tubuh berfungsi, itu yang normal. Suami menuntun isteri dan isteri menopang suami, agar keduanya boleh saling bergandeng tangan, untuk mencapai destini mereka berdua dan destini mereka masing-masing di Kristus Yesus, Tuhan. Ini baru kehidupan suami isteri yang normal dan seharusnya.